Header Ads

Header ADS

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW



Oleh. H. Qomaruddin, S.Ag, M.A*
            Pendidikan merupakan aspek penting bagi sumber daya manusia. Untuk mencapai suatu keterkaitan dalam suatu program pendidikan baik pada lembaga pendidikan umum maupun pendidikan agama, yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran, maka salah satu faktornya adalah guru. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya adalah model pembelajaran dan aktivitas belajar siswa.
            Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif cukup besar pengaruhnya terhadap keberhasilan guru dalam mengajar. Model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw adalah salah satu faktor bentuk pembelajaran dimana siswa akan lebih mudah dalam menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit dalam pelajaran apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Beberapa anggota dalam satu kelompok bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut pada anggota dalam kelompoknya.
            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar Aqidah Akhlak pada pokok bahasan menjelaskan pengertian dan pentingnya husnudzon, tawadlu’, tasamuh, dan ta’awun pada siswa kelas VIII Mts Negeri Tuban. Serta juga mendiskripsikan bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dapat meningkatkan prestasi belajar Aqidah Akhlak pada pokok bahasan menjelaskan pengertian materi di atas. Karena dengan penelitian ini diharapkan ada perubahan pada diri peserta didik baik pada ranah kognitif, afektik, serta psikomotorik sehingga bermanfaat bagi peningkatan belajar siswa.
            Joyce (1992: 4) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam menrencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
            Adapun Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000:10) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah:
            Metode penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan diterapkan bersamaan proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan minimal 2 siklus dengan menggunakan metode bermain berpasangan, tiap-tiap siklus akan dilaksanakan langkah-langkah:
1.      Planning atau Perencanaan
Pada fase perencanaan ini, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif tipe jigsaw. Kemudian juga menyiapkan instrumen penelitian berupa 20 soal tes pilihan ganda terkait dengan materi yang telah dipersiapkan dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak ( Husnudzon, Tawadlu’, Tasamuh, dan Ta’awun).
2.      Fase Tindakan
Pada fase tindakan ini, melaksanakan tindakan proses pembelajaran sesuai jadwal yang disusun, dan mengikuti langkah-langkah proses pembelajaran dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah memakai model kooperatif tipe jigsaw.
3.      Fase Observasi
Pada fase observasi ini, mengadakan pengamatan selama proses pembelajaran dengan mengisi instrumen pengamatan difokuskan pada perubahan perilaku siswa terkait motivasi, minat, keaktifan dalam proses pembelajaran. Dan peneliti mencatat peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran ke dalam instrumen pengamatan dan penilaian.
4.      Fase Refleksi
Pada fase refleksi ini, menganalisis hasil uji tes siswa terkait materi siswa. Mengidentifikasi kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki rencana pembelajaran pada siklus ke-dua.
Sedangkan pada siklus ke-dua. Prosedur dan langkah-langkah yang dilakukan pada siklus
ke-dua ini pada prinsipnya sama dengan pelaksanaan siklus ke-satu, dan hanya mengubah pola tindakan, dengan cara mengadakan modifikasi yang disesuaikan dengan hasil evaluasi dan refleksi pada proses sebelumnya.
1.      Fase Perencanaan
Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif yang sudah diperbaiki berdasarkan hasil refleksi. Menyiapkan alat/bahan media pembelajaran. Menyiapkan instrumen penelitian berupa 20 soal atau lebih tes pilihan ganda terkait materi pada mata pelajaran Aqidah Akhlak.
2.      Fase Tindakan
Pada fase tindakan ini, melaksanakan tindakan proses pembelajaran sesuai jadwal yang disusun, dan mengikuti langkah-langkah proses pembelajaran dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
3.      Fase Observasi
Mengadakan pengamatan selama proses pembelajaran dengan mengisi instrumen pengamatan yang difokuskan pada perubahan perilaku siswa dan kemampuan menjawab materi
4.      Fase Refeksi
Pada fase ini, menganalisis hasil uji tes soal terkait materi. Mengidentifikasi kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki rencana pembelajaran pada siklus selanjutnya bila diperlukan.
Sedangkan Eggen dan Kauchak (1996: 279) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa atau sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.
            Asma (2006: 12) menyatakan kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran kooperatif dilakukan oleh siswa antara lain adalah: mengikuti penjelasan guru secara aktif, menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, mendorong teman sekelompoknya untuk berpartisipasi secara aktif dan berdiskusi. Selain itu terdapat keterampilan kooperatif yang dapat dikembangkan oleh kelompok dalam mendukung kegiatan siswa. Keterampilan tersebut dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi dan pembagian tugas antar anggota kelompok.
            Kegiatann-kegiatan dalam pembelajaran kooperatif yang dilakukan oleh siswa antara lain adalah: mengikuti penjelasan guru secara aktif, menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, mendorong teman kelompoknya untuk berpartisipasi secara aktif dan berdiskusi. Selain itu terdapat keterampilan kooperatif yang dikembangkan oleh kelompok dalam mendukung kegiatan siswa. Keterampilan tersebut dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi dan pembagian tugas antara anggota kelompok.
            Prosedur pembelajaran kooperatif meliputi tahapan penjelasan materi, tahapan ini menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan pada tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Setelah itu ada belajar kelompok, tujuan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis yang dilakukan secara individu serta kelompok. Pengakuan tim, pada tahapan ini perlunya memberikan penghargaan bagi tim yang paling menonjol sehingga ada motivasi tersendiri untuk membangun karakter tim dan individu dalam suasana pembelajaran.
            Sedangkan kooperatif model tipe jigsaw, langkah-langkah yang harus diambil sebagai berikut:
1.      Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4-6 orang
2.      Tiap orang dalam kelompok diberikan subtopic yang berbeda
3.      Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan subtopik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli
4.      Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua subtopik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok
5.      Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topic yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topic tersebut
6.      Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada kelompoknya
7.      Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi
8.      Guru memberikan tes individu pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan
9.      Siswa mengerjakan tes individu atau kelompok yang mencakup semua topik
Penggunaan model pembelajaran kooperatif cukup besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan guru dalam mengajar. Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran dimana siswa secara aktif mengontruksi pengetahuan mereka sendiri. Dan Jigsaw, salah satu model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelmpok yang bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut pada anggota lain dalam kelompoknya.
            Dari hasil pengamatan penulis bahwa setelah diterapkan model kooperatif jigsaw ada peningkatan prestasi belajar siswa yang dilihat dari ulangan harian pada mata pelajaran Aqidah Akhlak kelas VIII MTs Negeri Tuban pada materi pokok husnudzon, tawadlu’, tasamuh, dan ta’awun. Rata-rata kemampuan kelas adalah 77,03%. Sementara anak yang tuntas belajar adalah sebesar 33 anak atau sebesar 91,89%. Dan hanya terdapat 3 anak atau 8,11% yang tidak tuntas belajar. Hasil penelitian pada siklus 2 ini menunjukkan bahwa rata-rata ketuntasan belajar kelas sudah melebihi ketuntasan belajar , sebesar 85%. Disamping itu siswa merasakan ada motivasi tersendiri ketika mereka harus menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan kelompok mereka masing-masing secara aktif serta menyenangkan. Intinya dalam pembelajaran guru harus pandai dan banyak mencoba cara-cara mengajar yang bisa membuat siswa termotivasi dan selalu semangat dalam belajar. Tentu saja belajar yang enjoy dan tidak monoton.



H. Qomaruddin, S.Ag, M. A 
Kepala MTs Negeri
Lahir: Tuban, 1970-06-06
NIP: 197006061994031002
NUPTK: 6938748651200012


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.