Header Ads

Header ADS

MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK



Oleh. H. Qomaruddin, S.Ag, M. A*

Dalam dunia pendidikan seorang guru harus memilih metode pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu upaya guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning. Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dianggap efektif dalam pembelajaran mata pelajaran Aqidah Akhlak. Mata pelajaran Aqidah Akhlak bukanlah mata pelajaran yang dihafal dan diingat saja akan tetapi lebih pada pengertian dan pemahaman.
            Model pembelajaran Discovery Learning adalah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
            Metode pembelajaran Discovery (penemuan) merupakan metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya ini tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
            Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif di dalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses beajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
            Discovery Leraning ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan tekhnik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
            Ada tiga ciri utama menemukan yaitu:
1.      Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan.
2.      Berpusat pada siswa (student centered)
3.      Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Blake membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whelwell.
Whelwell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu : mengklarifikasi, menarik kesimpulan secara induksi, dan membuktikan kebenaran (verifikasi). Sedangkan langkah-langkah dalam pembelajaran discovery learning sebagai berikut:
1.      Identifikasi kebutuhan siswa
2.      Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan.
3.      Seleksi bahan, problema/tugas-tugas.
4.      Membantu dan memperjelas tugas/problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa.
5.      Mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan.
6.      Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan.
7.      Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan.
8.      Membantu siswa dengan informasi/data jika diperlukan oleh siswa.
9.      Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10.  Merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11.  Membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Untuk penilaian pada model pembelajaran discovery learning dapat dilakukan dengan
menggunakan tes maupun non tes. Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, dan sikap atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penilaiannya berupa penilaian kognitif, maka dalam model  pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan.
            Dalam pembelajaran mata pelajaran Aqidah Akhlak dalam bab pengertian dalil dan pentingnya beriman kepada Allah SWT lebih banyak menggunaka metode tradisional/konvesional seperti memperbanyak ceramah, tanya jawab membuat proses pembelajaran Aqidah Akhlak terkesan monoton dan siswa kecenderungan pasif dalam proses pembelajaran. Guru merasa dominan di dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang membuat proses pembelajaran belum maksimal. Bahkan siswa cenderung bosan dan jenuh karena merasa proses pembelajarannya tidak berpusat pada siswa akan tetapi berpusat pada guru yang kurang bisa mengembangkan model-model pembelajaran yang menyenangkan.
            Penulis menemukan beberapa kasus pada siklus pertama dalam sessi empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada hasil belajar siswa pada siklus I, dapat dilihat bahwa kemampuan materi pengertian dalil dan pentingnya beriman kepada Allah SWT pada anak kelas VIII Mts Negeri Tuban Tahun 2016/2017, rata-rata kelasnya adalah 68,89. Dalam hal ketuntasan belajar anak yang tuntas belajar adalah sebesar 19 anak atau 52,77%. Jumlah ini masih dibawah hasil yang diharapkan yaitu 75%. Oleh sebab itu guru melanjutkan ke siklus yang ke-2 yang lebih mengarah pada perbaikan.
            Pada tahap siklus ke-2, guru melakukan kegiatan pembelajaran terkait pengertian dalil dan pentingnya beriman kepada rasul Allah SWT dengan model Discovery Learning. Hasilnya menunjukkan peningkatan. Rata-rata kelas meningkat menjadi 78,47%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan anak menunjukkan peningkatan. Di sisi lain ketuntasan belajar anak juga mengalami peningkatan. Pada siklus ke-2 ini anak yang tuntas belajar 31 anak atau sebesar 86,11%. Hal ini membuktikan bahwa metode discovery learning dapat meningkatkan kemampuan anak dalam pengertian dalil dan pentingnya beriman kepada Allah SWT.

            Sehingga dalam pembelajaran mata pelajaran Aqidah Akhlak perlu juga ada model-model pembelajaran yang progresif, salah satunya adalah metode pembelajaran dengan menggunakan metode Discovery Learning ini. Intinya dalam proses pembelajaran perlu untuk menerapkan model pembelajaran yang segar dan menyenangkan, kembali pada persoalan pembelajaran di sekolah bahwa yang menjadi kunci sukses tidaknya dalam proses pembelajaran yaitu adalah guru itu sendiri.



H. Qomaruddin, S.Ag, M. A 
Kepala MTs Negeri Tuban
Lahir: Tuban, 1970-06-06
NIP: 197006061994031002
NUPTK: 6938748651200012 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.