Header Ads

Header ADS

Sepasang Sepatu Cokelat Milik Ayah



Oleh: Ikal Hidayat Noor*

Aku melihat sepasang sepatu kedinginan di beranda. Sepatu Ayah. Sepatu kain berwarna cokelat yang sekilas warnanya nampak memudar karena basah oleh rintik hujan, seperti perasaan yang perlahan menghilang karena diabaikan.
“Masuklah, nanti kamu masuk angin!”
Suara ibuku. Ibu selalu begitu jika aku berlama-lama di beranda melihat hujan turun. Ia banyak melarang, mungkin karena tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan. Tapi aku senang melihat hujan. Aku senang melihat benang-benang air yang jatuh menimpa tanah. Dan aku sering bertanya sendiri, kemana mereka pergi?
“Aku tidak akan masuk angin, Bu.”
Pohon mangga di halaman rumahku bergoyang karena terpaan angin. Beberapa daun kuning jatuh menimpa tanah. Air merayap di sela-sela rumput hijau yang basah. Aku senang bermain di sana bersama Ayah dan Ibu. Dulu, lama sekali. Sebelum Ayah menghilang.
Ayahku bisa mengangkatku di pundaknya dan berlari. Aku merentangkan kedua tanganku. Di bawah cahaya matahari yang tembaga kubayangkan aku adalah seekor burung yang memiliki sepasang sayap. Tapi Ibuku, yang sedang duduk di selembar tikar, ikut berteriak senang dan bilang bahwa aku adalah pesawat terbang. Aku lebih suka burung, ia makhluk hidup, bisa terbang sendiri. Sedangkan pesawat terbang butuh pilot, dan barangkali ia tak bahagia karena itu.
Tak ada yang tahu Ayah pergi ke mana, begitu pun Ibu. Yang kami tahu, Ayah pergi tanpa memakai sepasang sepatu. Sepatu berwarna cokelat tua. Sepatu kesayangannya. Ayah selalu memakai sepatu itu di luar jam kantor. Saat kami pergi berlibur ke rumah kakek, ke taman bermain atau menonton film di bioskop.  Ayah begitu menyayangi sepasang sepatu itu. Ia selalu menjaga dan merawatnya.
“Masuklah, Nak! Hujannya semakin deras.”
Aku menoleh ke arah Ibu. Perempuan yang melahirkanku itu serupa kendi tua dari tanah yang selalu terlihat pucat dan murung. Ia duduk di kursi malas. Pandangannya terlempar jauh melewati jendela. Menerobos hujan lebat yang serupa hutan air mata.
Dulu Ibuku tak seperti itu. Ia adalah bunga matahari yang selalu mekar di halaman setiap pagi. Tatapan matanya teduh, dan senyumnya indah. Ia juga bisa bernyanyi semerdu burung-burung. Tapi tiba-tiba saja ibuku berubah.
Aku sering berpikir bahwa suatu malam, seorang penyihir jahat masuk ke kamar Ibu dan mengutuknya menjadi si buruk rupa. Semenjak itu, Ayah jadi jarang pulang ke rumah. Dan ibuku menjadi sering marah-marah.
Jika ada seorang pangerang yang akan datang dan menghilangkan kutukan Ibu, bukankah itu seharusnya Ayah?
Tapi Ayah tak pernah datang. Ia menghilang seperti balon yang tak sengaja lepas dari genggaman seorang anak kecil. Aku kadang rindu Ayah. Tapi Ibu tak pernah mau mengerti perasaanku. Ibu juga tak pernah pergi mencari Ayah.
Seperti sebuah mobil rusak, Ibu hanya berdiam diri saja di dalam rumah. Sesekali Nenek datang dan mengajakku pergi jalan-jalan. Ke mal atau kebun binatang. Di sepanjang jalan, aku selalu menoleh ke kiri dan kanan, barangkali aku melihat Ayah di suatu tempat. Tapi Ayah tak ada di mana-mana.
 Aku pernah bertanya kepada Nenek kemana Ayah pergi, tapi Nenek selalu diam. Sebagai gantinya, Nenek membelikanku es krim. Aku suka es krim rasa cokelat. Entah sengaja atau tidak, cokelat adalah warna kesukaan Ayah. Ayah senang memakai topi, kaos, celana, jam tangan dan sepatu berwarna cokelat.
Hujan masih terus jatuh. Sepasang sepatu berwarna cokelat itu semakin membengkak, ada banyak air yang masuk di dalamnya. Jika Ayah ada di rumah, ia tak akan membiarkan sepatunya kehujanan. Ia menyayangi benda-benda miliknya, seperti ia menyayangi aku dan Ibu.
Aku ingin mengambil sepatu itu dan memasukkannya ke dalam rumah agar terhindar dari hujan. Tapi Ibu pasti akan marah. Aku pernah mengambil sepasang sepatu itu dan menyembunyikannya di kolong ranjangku. Tapi Ibu tahu. Ia marah kepadaku dan melemparkan sepasang sepatu itu ke tempat semula, di beranda, di dekat pot bunga mawar yang kini kering kerontang dan hanya tinggal batangnya. Aneh, padahal ini musim hujan, mengapa bunga mawar itu tak mau berdaun dan berbunga lagi.
Dulu bunga mawar itu pernah berbunga. Aku ingat saat Ayah memetik kuntum bunganya dan menyelipkannya di kuping Ibu. Perlahan Ayah mencium kengin Ibu, dan Ibu tersenyum malu-malu. Aku tahu, ada kebahagiaan yang seolah akan abadi di wajah mereka saat itu.
Ayah pergi dan senyuman itu tak pernah terbit lagi.
Ibu masih duduk di dekat jendela. Rambutnya yang bergelombang sesekali bergerak, terurai diterpa angin basah. Aku tak tahu apakah Ibu sedang memikirkan Ayah.
Ibu tak pernah mau tahu soal Ayah. Ia bahkan tak segan membentakku setiap kali aku tak berhenti bertanya kepadanya tentang lelaki itu.
Aku pernah mengurung diri di dalam kamar. Menguci pintu rapat-rapat, tidak mau makan dan berbicara. Aku berharap Ibu hendak berbicara tentang Ayah atau membawaku kepadanya. Tapi sia-sia. Sampai akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi.
“Makanlah. Jangan tanyakan lagi soal Ayahmu, ia tak akan pernah kembali.”
Apakah Ibu tak lagi menyayangi Ayah. Rasanya tak mungkin.
Dulu Ibu begitu mencintainya. Setiap sore, di beranda ini, kami sering menunggui Ayah pulang kerja. Aku ingat jelas gurat cemas di wajah Ibu selama menunggu. Kedua matanya tak henti memandangi jalan raya, sampai sosok Ayah mucul dari balik pagar. Setelah itu ada senyum kebahagian yang bertaburan di wajahnya, indah sekali, seperti bunga-bunga di musim semi.
Hari sudah sore, dan hujan sepertinya tak ingin berhenti. Rintiknya semakin lebat membanjiri halaman, membuat genangan air dan menenggelamkan rumput hijau. Dari jauh, mulai terdengar suara sekawanan katak menyenandungkan lagu hujan.
Apakah sekawanan katak itu sedang bahagia?
“Masuklah, Nak. Hari hampir malam.”
Suara Ibu terdengar lagi. Aku masih enggan masuk. Meski mulai samar, aku melihat sepasang sepatu cokelat milik Ayah itu kedinginan. Apakah sepasang sepatu itu juga merindukan Ayah?
Aku berjalan mendekat ke arah sepatu itu. Tempias air menerpa wajahku. Ada hawa dingin yang menjalar ke tubuhku. Kujulurkan kedua tangan. Jemari-jemariku hampir menggapai sepasang sepatu itu, tapi tangan Ibu lebih dulu mencengkeram lenganku.
“Masuk. Sekarang juga!”
Ibu menyeretku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku berlari menuju kamarku. Di dalam kamar, aku tak berhenti memikirkan sepasang sepatu di beranda itu. Sepasang sepatu itu akan kedinginan di sana, sepanjang malam. Tak ada yang akan mempedulikannya. Apakah sepasang sepatu itu akan menangis?
Hujan masih terus jatuh. Suara rintiknya yang menimpa atap kamar ditingkahi senandung katak di kejahuan. Aku terus memikirkan sepasang sepatu cokelat milih Ayah, sampai aku terlelap.
Dalam tidurku, aku bermimpi, aku dan Ibu berubah menjadi sepasang sepatu cokelat milik Ayah.
Di beranda, di dekat pot bunga mawar yang masih lebat daunnya, aku melihat Ayah melepas kami—sepasang sepatu cokelat yang dulu begitu disayanginya—dan memakai sepasang sepatu baru berwarna merah. Dengan sepatu barunya, Ayah melangkah pergi meninggalkan beranda dan tak pernah kembali.
Aku dan ibu, sepasang sepatu cokelat milik Ayah, kini kehujanan di beranda, menggigil kedinginan dan menunggu Ayah datang. Kami tak pernah tahu, sampai kapan harus terus menunggu.

Tuban, 08 Juli 2017

credit gambar: pinterest.com

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.