Header Ads

Header ADS

Resensi Buku Karya Yus R. Hernandez Seni Mengajar ala Pelatih Top Sepak Bola Dunia



Oleh. Rohmat Sholihin*

            Guru yang ideal adalah guru yang sanggup mengajar dengan pendekatan-pendekatan sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Maka dari itu, buku ini dapat menjadi referensi baru dalam proses belajar mengajar. Buku ini sengaja menjadikan dunia sepak bola sebagai rujukan yang inspiratif, utamanya pada trik pelatih sepak bola dalam menyusun strategi hingga menggenjot dan menggembleng anak asuhnya dengan metode-metode yang bertumpu pada semangat dan kedisiplinan.

            Banyak inspirasi yang dapat diambil oleh seorang guru dari para pelatih sepak bola, tidak hanya pada metode yang diterapkan, tetapi juga pada semangat mereka yang tak pernah bosan “mencari tantangan”. Dalam konteks ini menjadi pelajaran menarik bagi seorang guru bahwa dalam mengajar, harus ada semangat yang tak pernah pudar untuk menyambut tantangan baru guna memotivasi peserta didik.

            Sering kali, masalah yang dihadapi dunia pendidikan pada umumnya tidak lain adalah soal ketidakcakapan seorang guru dalam mengajar. Sehingga anak didik mudah bosan dan tidak menarik dengan model dan cara mengajarnya. Seni mengajar merupakan hal fundamental karena berkaitan dengan metode yang mempengaruhi daya tangkap siswa terhadap materi ajar. Guru harus bisa menjadi sosok yang penuh inspiratif dan pantas ditiru oleh peserta didik (para pemain sepak bola). Mereka manyampaikan taktik atau strategi permainan serta memberikan porsi latihan yang cukup menarik, mulai dari fisik, teknik, penggemblengan mental, kerja sama tim, strategi permainan, memilih sang kapten, memberikan tugas tendangan finalti, memberikan tugas tendangan sudut, memberikan tugas tendangan bebas, pergantian pemain, pola permainan, menentukan nomor punggung pemain, belum lagi porsi menu makanannya, menu istirahat, rekreasi, semua sang pelatih harus selalu ikut terlibat. Pemain atau peserta didik harus selalu tampil prima dan meraih kemenangan. 

            Melihat dunia sepak bola yang juga hampir komplit seperti pendidikan, seorang guru atau pelatih harus benar-benar menguasai segala macam teknik dan karakter para pemainnya atau anak asuhnya. Jangan sampai seorang pelatih lengah atau teledor yang bisa menyebabkan kekalahan. Seorang guru juga harus selalu memahami karakter anak didiknya sehingga guru akan lebih mudah menyampaikan materi ajar dengan segala jenis teknik yang sudah dipersiapkan. Mengajar tidak harus plek atau persis seperti dalam aturan kurikulum yang telah diberlakukan akan tetapi dengan cerdas seorang guru harus bisa menempatkan makna dasar tujuan kurikulum yang dimaksud. Karena dalam permainan sepak bola dilapangan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga akan selalu muncul namun dengan persiapan matang baik fisik, teknik, dan mental yang baik, pemain kita akan selalu siap dan selalu tangguh dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, pemain kita akan cepat beradaptasi dengan pola permainan, faktor lapangan, tipikal lawan, penonton, bahkan faktor non teknis lainnya. Sama halnya juga dengan guru, ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di sekolahan, baik itu kurang konsentrasinya anak didik, bertengkar, lupa tidak membawa buku, tidak membawa pulpen, tidak membawa pencil, belum mengerjakan pekerjaan atau tugas, mengantuk, mencontek, dan masih banyak lagi. Guru harus tanggap dan cepat untuk bereaksi dengan tipikal karakter guru, bukan tipikal preman yang selalu mengutamakan kekerasan dan hukuman yang tidak pantas diberikan kepada murid, suatu missal berdiri di depan kelas dengan kaki satu, atau hukuman-hukuman yang bisa membuat mental tanding anak didik menjadi down atau jatuh. Berikan dia sanksi yang mendidik ibaratnya dalam aturan sepak bola juga ada pelanggaran, jika pelanggaran yang tidak terlalu fatal, kasih peringatan, jika lebih dari itu, kartu kuning, lebih dari itu lagi kartu merah atau skors. Itupun tidak dengan kekerasan. 

            Ada banyak tokoh-tokoh pelatih sepak bola dunia, Sir Alex Ferguson yang jenius menyusun strategi dari waktu ke waktu. Sehingga Manchester United yang dilatihnya sejak tahun 1986 menjadi tim yang sukses dan disegani di Eropa. Kepada Jose Mourinho, kita juga dapat menimba ilmu atau pengalaman tentang rahasia melatih yang baik, disiplin, dan penuh prestasi. Kepada Josep Guardiola, kita pun bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa dalam melatih (mengajar), kasih saying juga penting di samping strategi permainan yang brilian, seperti yang diterapkannya pada tim Barcelona yang diasuhnya sejak tahun 2000 hingga 2012.

            Demikian pula yang berlaku pada pelatih-pelatih hebat lainnya, macam Carlo Ancelotti, Arsene Wenger, Arrigo Sacchi, Vicente del Bosque, Fabio Capello, Harry Redknapp, Guus Hiddink, dan masih banyak lagi. Mereka adalah pelatih-pelatih top dunia dengan segudang prestasi. Tentu saja 1001 rahasia di balik “seni” melatih mereka yang terbilang sukses ketika memoles sebuah tim. Dunia pendidikan kiranya pantas meniru atau mengambil inspirasi dari pola dan metode melatih mereka yang sangat dahsyat. Dihasilkannya pemain-pemain yang berkualitas, baik sebagai individu dan tim, juga trofi juara sebagai symbol kesuksesan, adalah bukti “tangan dingin” mereka dalam mendidik para atlet. 

            Munculnya pemain-pemain legendaris macam Pele, Diego Maradona, Michael Platini, Alfredo de Stefano, Zinedine Zidane, dan kini Wayne Rooney, Chritiano Ronaldo, serta Lionel Messi, misalnya, pasti tidak lepas dari “tangan dingin” pelatih mereka. Namun demikian, kita pun tidak bisa memungkiri jika mereka memang memiliki skill yang luar biasa sehingga muncul istilah “pemain dari planet lain”.

            Dalam buku yang ditulis Yus R. Hernandez dan diterbitkan oleh Diva Press ini bermaksud menghadirkan sebuah kesadaran bahwa mengajar adalah tugas mulia. Dengan demikian, tentu dibutuhkan strategi atau metode disamping kecerdasan dan komitmen tentunya yang lebih segar dan inspiratif. Salah satunya adalah dengan bercermin pada strategi dan taktik pelatih-pelatih top sepak bola dunia dalam memoles sebuah tima yang terdiri dari beragam individu, baik skill maupun karakternya. Missal, dalam cuplikan buku ini ada tipologi kepribadian anak:
  1. Koleris, anak-anak yang memiliki kepribadian koleris biasanya sering bersikap tegas.  Ketegasan ini dibarengi dengan kecenderungan untuk selalu berada di atas, atau lebih tepatnya, kecenderungan untuk memimpin.
  2.  Sanguinis, kepribadian sanguinis mengindikasikan keterbukaan, keceriaan, dan mudah menjadi pusat perhatian. Itulah anak-anak dengan kepribadian sanguinis. Di mana-mana, kepribadian macam ini selalu ingin menghibur dan membuat anak-anak lain di sekelilingnya tertawa ceria.
  3. Melankolis, cerdas dan rapi. Itulah ciri menonjol dari anak-anak yang memiliki kepribadian melankolis. Di dalam kelas ia memiliki kecerdasan yang sangat bagus.
  4. Plegmatis, ciri utama dari tipe kepribadian ini adalah setia dengan segala sesuatu yang telah ditentukan. Anak plegmatis tidak suka memikirkan kembali apa yang diperintahkan kepada dirinya untuk dikerjakan. Sederhananya, anak plegmatis adalah anak penurut yang rela duduk atau berdiri jika memang ia diperintahkan begitu.  (hal. 39-42).


Siapa pun yang berkiprah di dunia pendidikan. Terutama seorang guru, harus pandai-
pandai bersyukur. Sebab, ada banyak inspirasi yang bisa dijadikan metode dalam mengajar, salah satunya, sebagaimana dibahas dalam buku setebal 174 halaman ini, ialah seni mengajar ala pelatih top sepak bola dunia. Selamat membaca!.



            *Penulis aktif di Komunitas Literasi Kali Kening Bangilan-Tuban.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.