Header Ads

Header ADS

Lukisan Polos


Oleh :  

Aku masih tertegun pada coretan pensil 2B-ku. Sudah sepekan lalu ku selesaikan lukisan tentang wajahmu. Harus ku warnai dengan kombinasi yang semacam apa untuk memperindah lukisan itu, pikirku. Aku bingung. Karena wajahmu memang sangat tampak begitu elok tatkala aku memandangimu. 
Dalam keseharian, selalu kuperhatikan caramu memahkotai kepalamu dengan berkerudung. Tidak neko-neko. Tidak banyak lipatan-lipatan bertingkat yang menyulitkan pandanganku. Maaf aku selalu mencuri pandangan terhadapmu.
Namun tak bisa kupungkiri dari itulah aku bisa memiliki lukisan wajahmu.
Kamu tahu tidak. Saat akan melukis pesona wajahmu. Pensilku gemetar bersama jemariku. Bak, orang yang menggigil kedinginan usai perang menorobos derasnya hujan. Boleh juga mungkin jika dikata seperti orang tua renta terkaget dengan salam sang petir tanpa permisi.
Tak kusangka, mata pensil yang telah kuraut belum sempat kutorehkan, hujan diturunkan oleh Penguasanya. Mungkin hujan kemaren itu ingin menjadi saksi pula. Tapi aku agak sedikit pekewuh kala itu. Mestinya ia tahu, kalau ia turun menyaksikanku melukis wajahmu itu malah merepotkanku, kataku dalam hati.
Tak apalah bila memang aku yang harus mengalah hingga ku geser mejaku. “Oke, aku fahami maksud kedatanganmu, sekaligus perintahmu.” Gumamku pada hujan itu.
Ku awali dari menggores ujung atas kerundungmu, dengan sedikit meliuk kemudian kutarik mengalun kebawah. Garis ini adalah sisi kiri kerudungmu bila kita berdua saling bertatap mata. Ku jelaskan tentang garis itu, karena sengaja ku lukis wajahmu dari samping kiri. 
Maaf, bila itu tak memuaskanmu. Tapi ada alasan mendasar dalam itu. Yaitu aku masih belum berani menggambarkan betapa indahnya matamu. Lebar-sempitnya, belum lagi binarnya bola matamu. 
Entah pemalu atau memang benalu sebutan bagiku untuk itu. Tapi memang kalau boleh ku samapaikan dalam tulisan ini, tatapanmu itu teduuuh. Lebay ‘kan nada bahasaku? Namun bagiku tidak. Itu nyata ada padamu. Awan yang tebal nan putih yang saat ini menemaniku menulis pun kalah teduh dibanding tatapanmu. Rentetan pohon cemara tepat dipinggir pagar rumah tetangga pun sejuknya tak mengungguli aura tatapanmu. 
Singkatnya, tatapanmu itu teduh dan sejuk tak berbanding. Simpan ini ya.
Dari garis yang pertama itu, penaku mengajakku tuk beranjak memberi keseimbangan, yakni garis sebelah kanan, tentu tidak sepanjang yang kiri. Ku hentikan pada titik sekiranya sejajar dengan tulang atasnya pipi berada. Dua buah bola matamu tersembunyi disana.
Kemudian mata pensilku mengalir dengan jemariku, keduanya seakan patner yang saling menguntungkanku. Goresan berlanjut pada bagian hidungmu nan penuh kepantasan, panjangnya dan lubangya yang ku tahu persis hanya tampak sipit. Dua buah bibirmu pun aku kenali, tak terlalu tebal, ku lukiskan itu dengan gambaran kau sedang mingkem penuh kearifan, memperhatihatikan seksama alqur’an yang ku sematkan terbuka di tanganmu. Terasa seperti dewa mabuk aku dalam melukismu. 
Ku bersandar sejenak pada punggung kursi, membayang dagumu. Hhe... ku tersenyum tipis, namun puas, menemukan lekuk kalem dagumu. 
Gambarmu tampak bersahaja dan anggun dengan kerudung itu. Benar-benar, kau itu sungguh indah. 
Aku menanti suatu saat engkau berkenan menemaniku memberi warna pada lukisanmu itu. Ah... itu sekedar anganku.
Seminggu sudah ku hanya tertegun merenung dan memandanginya dalam lukisan ini. Hanya untuk mengisi hari dan mengubur sunyi. Diriku terkurung lemas dalam sempitnya bilik kamarku. Hanya butiran obat dan air mineral yang bersanding denganku.
Tututut... tututut... tututut, tut... 
Tututut... tututut... tututut, tut...
Ada bunyi pemberitahuan chattingan Whats App yang nyaring dari ponselku. Itu dapat kuterka darimu. Kurasa kau ingin bertanya kabar tentangku. Atau mungkin mengirim pesan teks semacam ini, “memang kamu sedang sakit apa? Kok lama tak bersua.”. Atau lagi, bilang kepadaku secara ceplos kalau kau pun sedang merindu berpapasan denganku.
Kuraih ponselku, kugambar pola pengunci layar ponselku. Ah... ternyata bukan dari kamu, melainkan dari salah seorang teman. Membuatku tak nafsu saja, kugelatakkan ponselku itu. Kenapa tidak namamu yang mengirim chattingan itu, kataku dalam hati. Setidaknya aku bisa  mempersuarakan kata-kata yang kau tulis dengan suaramu yang akrab sekali ditelingaku. Kita tukar menukar tawa, cerita, dan jual-beli hiburan bersama. Ayolah kirimi aku pesan teks atau pesan suara, gitu. Khayalku tak henti berharap.
“Cowok kok berharap ditelepon! cowok kok nunggu disapa! Ah dasar kamu!” nafsuku berbisik. Tak bisa kuterima dengan diam ledekan barusan. “Oke, akan kuambil ponselku dan aku yang akan memulai.” Batinku pada nafsuku.
Baru akan saya beranjak melangkah ke tempat dimana kuletakkan ponselku, dering kedua terdengar lagi. 
Segala kemungkinan dan terkaan muncul pada pikiranku. Mungkinkah dari dia ya. Atau mungkin masih dari temenku tadi. Kalau benar dari temenku tadi, berarti ada yang terlihat penting dong. Ah, mungkin dari group literasiku. Kalau ndak gitu, paling-paling dari group lain.
Benar, kemungkinan yang kedualah yang terjadi. Tapi okelah, kubuka saja. “Sob, do’imu sedang  masuk puskesmas, nih.”. Pikiranku kacau parah, Hati berlipat gelisah, jemariku tambah gemetar menulis jawaban untuk kabar itu. “Ya, sob, aku kesana segera.” semakin terkulai lemas seluruh organ jasadku. 
Kukerahkan pikiranku untuk memberi energi pada saraf, tulang dan otot jasadku. Kupencet tombol start pada motor bututku. Motor yang sungguh merepotkan bagiku sore itu. Tampaknya accu motorku sudah saatnya diganti. Nyatanya tak mau “nyeggol” pula saat kupencet tombol start. Beberapa kali garis tengah kakiku terjebret oleh kick-starter yang kuayun. Setelah ritualklasik itu aku lakukan tujuh kali, barulah ia siap aku ajak menggaruda. Hehehe..
Aku berangkat menjenguk wanita yang aku lukis yang aku pun tak tau nama lengkapnya.
Puskesmas Bangilan, sampailah aku disana. Puskesmas yang setahuku lingkungannya bersih dan cepat penanganannya. Belum sempat aku turun dari motor, mata kepalaku berhenti memandang satu titik. Aku lihat ia berjalan keluar ruangan dengan digandeng kedua ortunya. Mereka pun pelan-pelan melewatiku, bukan kearahku, aku tahu itu, karena yang aku tahu, memang mobilnya diparkir didepan puskesmas.
Daripada nihil yang kudapat maka aku lanjutkan saja langkahku ke ruang periksa. “Anda hanya kekurangan darah, Mas. Tensi anda rendah.” Jawaban dokter berbadan besar, bugar lagi bersih kulitnya. sesering mungkin ya untuk mengkonsumsi makanan yang membantu tambahnya tekanan darah. Semacam sate kambing, atau daun singkong bisa juga.” Sungguh saran yang sudah kutebak sebelumnya.
Akan aku putar sepedaku. Eits, kutemukan sesuatu di spionku. Ada senyummu di spionku. Kau menoleh senyum kepadaku dalam mobil itu. Kau lah obat sesungguhnya bagiku. Tensiku benar-benar kembali normal secara hakiki. Ah, sungguh lega diriku. Kau masih sama seperti kau sepekan yang lalu. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.