Header Ads

Header ADS

HAIKAL: KUTUKAN BUJANG LAPUK



Oleh : Adib Riyanto

Seminggu setelah pernikahan Shalihin si anak pak lurah dengan Meylinda, Haikal menjadi gila. Auliya, sang ibu telah berkali-kali mendatangi mbah Rosho untuk menyembuhkannya, tapi berkali-kali pula mbah Rosho menggelengkan kepala,
"Sudah terlambat, kutukan Hantu Riyanto telah membunuh syaraf-syaraf otaknya." Suara parau mbah Rosho pagi itu serupa petir di siang bolong saat musim kemarau bagi Auliya. Ia tidak menyangka anak semata wayangnya akan menjadi seperti itu, padahal sudah ada beberapa dukun yang sudah ia datangi demi kesembuhan Haikal, mulai dari mbah Har dukun ujung kampung, mbah Joyo serta mbah Rosho. Khusus mbah Rosho, ini adalah kali ke lima baginya dimintai bantuan oleh Auliya meski sampai detik ini belum ada hasilnya. Ah... seandainya Tuhan mengizinkan, tentu Auliya rela dan dengan senang hati menggantikan posisi Haikal. Duh Gusti... kenapa semua jadi seperti ini... batinnya merintih.
"Apa sudah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan anak saya mbah?" Auliya memelas. Mbah Rosho diam sejenak, ia duduk bersila menghadap kebarat, matanya terpejam lalu mulutnya komat-kamit merapalkan mantra. Sesaat kemudian mbah Rosho mengangguk-anggukkan kepalanya dan menghembuskan nafas berat.
"Ada, tapi syaratnya sangat berat, apa kamu sanggup?" Tanya mbah Rosho pelan.
"Apapun akan saya lakukan demi kesembuhan anak saya mbah." Ujar Auliya. "Saya sudah tidak tega melihat Haikal seperti itu, lagipula orang tua mana yang rela anaknya di teriaki "gila", "stres" atau semacamnya oleh penduduk kampung?" Auliya menangis sesenggukan.
Mbah Rosho kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengambil sepuntung rokok lalu menyelipkannya di sela bibirnya yang hitam untuk kemudian menyulutnya. "Tadi saya sudah ngomong sama arwah Hantu Riyanto."
"Apa yang di katakannya mbah?" Sahut Auliya penasaran. Mbah Rosho menghirup dalam-dalam rokoknya dan menghembuskannya dengan sangat perlahan pada wajah Aulia, ia terbatuk-batuk.
"Dia tidak terima karena pernah di hina oleh Haikal." Ucap mbah Rosho, Auliya tertegun mendengarnya, ia mengerutkan dahi tak mengerti, karena yang ia tahu anaknya tidak pernah sekalipun menghina Hantu Riyanto yang sudah menjadi sebuah momok menakutkan bagi penduduk kampung itu, bahkan tidak ada seorangpun yang berani menyebut namanya. "Haikal harus meminta maaf pada Hantu Riyanto, kalau tidak..." Suara mbah Rosho menggantung.
"Kalau tidak apa mbah? Apa yang akan terjadi?" Auliya penasaran.
"Kalau tidak, Haikal akan menjadi bujang lapuk."
Auliya menelan ludah, ia jelas tidak rela melihat anaknya menjadi bujang lapuk. "Lalu apa yang harus saya lakukan mbah?" Tanya Auliya pada mbah Rosho.
"Haikal harus mencari Maya Akira."
"Hanya itu mbah?" Tanya Auliya menimpali ucapan mbah Rosho.
"Tidak, Haikal harus mencari Maya Akira lalu berdiri di hadapannya sambil memegang kedua telinga dan mengangkat sebelah kakinya, kemudian mengucapkan sebuah mantra." Sebuah perminta maafan yang aneh, pikir Auliya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak berani banyak bertanya karena mbah Rosho sudah terkenal sebagai dukun yang paling tersohor di kampung itu.
"Mantra?"
"Ya, mantra, Haikal harus membaca mantra ini seribu kali: "SAYA MINTA MAAF, DAN SAYA JANJI TIDAK AKAN MENGULANGI LAGI."."
Auliya kembali mengerutkan dahi.
*  *  *
Sore harinya selepas ashar yang sendu, rinai hujan mulai turun. Auliya menjadi panik, hati wanita paruh baya itu sedang kalut, jika keadaan terus seperti ini Haikal pasti kumat lagi, batinnya. Karena kutukan Hantu Riyanto selalu datang saat rintik hujan selepas ashar. Diluar, hujan turun semakin lebat saat tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar Haikal lalu terdengar sebuah teriakan.
"Meylinda..... Meylinda....."
Auliya menghampiri Haikal yang sedang kesetanan. Ia mendapati Haikal dengan mata melotot, menggigil dan meracau sambil terus berteriak memanggil nama Meylinda. Hati wanita itu bertambah pilu saat ia mencoba menenangkan Haikal. Di peluknya dengan erat tubuh anak semata wayangnya yang terus meronta. Auliya tak kuasa membendung kristal-kristal bening yang menggelayut di kelopak matanya.
"Istighfar ngger..." Auliya panik, tubuhnya bergetar hebat, tapi bukan karena sedang jatuh cinta atau sedang lapar, bukan juga karena mabuk AC, karena jelas-jelas tak ada AC di rumahnya, tapi itu karena rasa lelah yang mendera tubuh dan hatinya sejak Haikal di terkena kutukan Hantu Riyanto seminggu terakhir. Haikal terus meronta dan meneriakkan nama Meylinda.
"Meylinda... Meylinda..." Teriak Haikal. Auliya terus memeluk anak semata wayangnya itu.
"Istighfar ngger..." Mata Auliya tak berhenti menumpahkan air matanya. Hatinya teramat pilu mendapati kenyataan ini, sementara Haikal terus meronta sehingga membuat Auliya tak mampu lagi menahan tubuh Haikal yang lebih besar darinya, dan beberapa saat kemudian Haikal menghempaskan Aulia diatas lantai, lalu pandangannya kabur, ia merasakan dahinya mengeluarkan cairan merah kental, anyir, lalu dunia menjadi gelap.
*   *   *
Seminggu setelahnya, kepala Auliya masih sedikit sakit setelah di hempaskan ke lantai oleh Haikal, kepalanya bertambah berat karena belum juga menemukan keberadaan Maya Akira. Sementara itu kutukan Hantu Riyanto semakin nyata di benak Auliya. Bahkan cerita tentang kutukan Hantu Riyanto yang di menimpa Haikal sudah menyebar di seluruh pelosok dusun. Di pasar, sekolahan, di kantor kecamatan dan di sepanjang jalan selalu menjadi topik pembicaraan yang hangat. Hati Auliya serasa teriris setiap kali mendengar pembicaraan para ibu-ibu di pasar yang membicarakan tentang Haikal anak semata wayangnya itu. Hatinya ingin menjerit sekencang-kencangnya. Gusti... kapan ini berakhir...? Batinnya. Auliya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia tak mampu menemukan keberadaan Maya Akira. Padahal ia sudah mencarinya kemana-mana, ke seluruh pelosok dusun. Ia tidak tega jika melihat anaknya menjadi bujang lapuk. Tapi ia sudah putus asa.
Hingga di satu sore setelah ashar, rinai hujan kembali menghujam tanah, bulir-bulir air menjelma gundah yang menyemak di dalam dada, dan kutukan Hantu Riyanto akan kembali bergentayangan memeluk Haikal. Haikal kembali meronta dan berlari membelah hujan yang semakin lebat tapi Auliya tak kuasa mengejarnya, ia sudah terlalu payah setelah seharian mencari keberadaan Maya Akira yang ternyata sudah meninggal dunia. Auliya hanya bisa duduk terpekur dan pasrah, Kedua matanya bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Ia hanya bisa berdo'a semoga  Haikal baik-baik saja.
Setelah itu Haikal tak pernah kembali ke rumahnya. Kabar yang berkembang di masyarakat Ia hidup menyendiri di bawah bukit nganget seperti Hantu Riyanto dan memutuskan menjadi bujang lapuk disana.

Bersambung

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.