Header Ads

Header ADS

Dahlan Iskan Melawan Dengan Tulisan



Oleh. Rohmat Sholihin*

            Siapa yang tidak kenal dengan pak Dahlan Iskan? Tokoh publik yang gemar menulis. Seorang guru, wartawan senior, pengusaha, pengasuh pondok pesantren, mantan dirut PLN, mantan Menteri BUMN, dan masih banyak lagi. Hidup pak Dahlan Iskan serasa lengkap. Namun, sisi menarik dari seorang Dahlan Iskan beliau tak pernah lepas dari tulisan. Beliau dibesarkan oleh tulisan, ketika masih menjadi wartawan sampai kemudian beliau menjadi pemilik Jawa Pos Group. Masih saja terus menulis bahkan ketika beliau terbaring tak berdaya, saat proses transplantasi hati di Tianjin China, beliau juga tak lepas dari menulis. Apapun kisahnya beliau tulis seperti menulis dalam buku diarynya. Mulai dari persiapan masuk rumah sakit sampai pasca operasi transplantasi hati beliau tulis secara detail menjadi kisah yang sangat inspiratif ketika kita membacanya, seolah-olah dalam waktu sakitpun kita tidak boleh menyerah masih banyak kesempatan untuk berbuat, memberikan cerita pada orang lain dalam bentuk tulisan, membuat kisah-kisah pribadi yang kreatif, inovatif dan itu tidak jauh-jauh menceritakan pengalaman diri sendiri untuk orang lain. Jadilah coretan-coretan karyanya ketika mengalami transplantasi hati itu menjadi buku yang berjudul “Ganti Hati” yang sebelumnya terbit secara periodik di koran harian Jawa Pos.

            Seakan-akan ketika kita membaca buku “Ganti Hati” sepertinya pak Dahlan tidak ada kesan kesedihan. Enjoy saja, mengalir bahkan beliau berhasil melalui masa-masa sulit dengan mengasyikkan. Heran, begitu hebatnya tokoh satu ini. Pembaca berhasil teraduk-aduk emosinya saat beliau mengalami masa kritis, karena dalam darahnya mempunyai kandungan albumin yang rendah sekali. Operasi tak bisa dilakukan dikhawatirkan gagal transplantasinya. Sedangkan keadaannya semakin kritis dan lemah. Bukan main-main, penyakit yang dideritanya kanker hati atau sirosis. Beliau tetap mengajak diskusi dengan dokter ahlinya, komunikatif, dan terbuka. Kesan dokter dipikiranku, maaf jauh dengan sikap dokter yang ada disini. Angker, egois, bahkan terkadang sangat tidak menyenangkan. Dari diskusi-diskusi dengan tim dokter ahlinya, diambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan kandungan albumin dalam darah adalah harus banyak makan ikan tentu bukan sembarang ikan. Di China susah dicari bahkan tak ada. Tapi pak Dahlan tak kurang akal, beliau pun menyuruh istrinya untuk mencarikan ikan kutuk di Indonesia yang masih melimpah untuk dibawa ke China. Dalam ikan kutuk yang banyak mengandung zat protein yang mampu meningkatkan kandungan albumin dalam darahnya. Dari hari ke hari ada perkembangan baik dan albumin mencapai titik normal. Operasi transplantasi hatipun dimulai, dan berhasil dengan baik. Meski dalam tulisannya begitu hati-hati dan disiplin diri dalam merawat pasca operasi.

            Lucunya yang menjadi pendonor hatinya adalah seorang pemuda berasal dari Bandung yang masih berusia 32 tahun. Masih muda, energik, dan sehat tentunya. Dan apakah pendonor suka menulis? Ternyata tidak. Pasca operasi pak Dahlan harus melatih lagi nalurinya untuk menulis. Dan bisa melewatinya. Tapi, ketika pertama kali jalan-jalan ke mall, hatinya dag-dig-dug-der, apa itu? Beliau gugup melihat cewek cantik. Dasar pak Dahlan maunya. Dan yang menjadi alasan maklum hati seorang pemuda tentunya.

            Sehabis melakukan operasi transplantasi hati, beliau bekerja keras seperti sedia kala. Namun, tetap harus menjaga kesehatannya. Jabatan dirut PLN beliau jalani dengan manis, beberapa daerah yang mengalami krisis listrik dapat teratasi. Hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merekrutnya untuk menjadi Menteri BUMN. Segudang prestasi dan gebrakan-gebrakan kebijakan dalam kementerian BUMN maju pesat bahkan untuk perusahaan milik Negara yang berkecimpung dalam bidang pertambangan khusunya PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mampu melebarkan sayap ke luar negeri seperti di Negara Vietnam. Dan apakah beliau tetap menulis? Tetap berlanjut, sepertinya tulisan tak kan bisa dipisahkan dari tangan dan naluri berfikirnya. Selama bekerja sebagai menteri BUMN, beliau juga merangkum dan memberikan pandangan serta gambaran tentang kebijakan-kebijakan dan hasil prestasi serta informasi melalui media publik  Jawa Pos kepada masyarakat yang beliau beri tema “Manufacturing Hope,” kita punya banyak mimpi dan harapan-harapan yang tidak boleh padam. Terkesan ketika pak Dahlan Iskan menghadiahi satu unit mobil avanza dan uang sebesar Rp. 50 juta kepada karyawannya dalam acara diskusi dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam perusahaan negara dengan ide yang cemerlang sebagai solusinya. Luar biasa. Tapi jangan su’udzon dulu, uang hadiah itu tetap dari kantong pribadinya, bukan dari uang negara, atau bisa dibilang korupsi. Kamus korupsi tak ada dalam diri Dahlan Iskan, beliau merintis karir dari bawah, merasakan getir berjibaku ketika masih berada di bawah, menyadari betapa berharganya kerja keras, tidak instan, dan yang jelas berpegang teguh pada prinsip keimanan karena beliau juga termasuk orang yang dibesarkan dalam dunia pesantren. Dan sebelum menjabat sebagai orang penting dalam pemerintahan, beliau sudah menjadi sosok yang kaya, baik pengalaman dan harta. Jadi tidak kaget ketika harus berhadapan dengan uang yang melimpah. Bahkan menter sogokan atau kebal suap dari orang-orang yang mencoba mengambil jalan pintas. Beliau dedikasikan hidupnya benar-benar murni untuk membangun bangsa dan negara bukan mencari pekerjaan di pemerintahan untuk mencukupi segala macam kebutuhan hidupnya.

            Ketika masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berakhir, berakhir pula jabatan beliau di Kementerian BUMN, bukan berarti selesai sudah dunianya dalam menulis. Beliau masih tetap menulis dalam rubrik “New Hope”, melaporkan beberapa hal penting tentang situasi-situasi dalam dan luar negeri. Bahkan beliau masih sempat melaporkan dan meliput suasana kematian petinju legendaris Muhammad Ali langsung dari Amerika. Semakin tua tetap semakin gila. Meski usia boleh tua masih tetap terus berkarya.

            Bukan berarti orang yang kita anggap bersih, berdedikasi tinggi, ikhlas, murah senyum, low profil, gila menulis, baik,  tak ada halangan dan ujian yang datang menerjang. Semakin tinggi kita menaiki pohon kelapa semakin tinggi pula angin yang menerpa. Berita yang cukup mengagetkan, pak Dahlan Iskan terjerat kasus korupsi. Tak tanggung-tanggung beliau langsung jadi tahanan di Rutan Medaeng Surabaya. Kasus korupsi di PT PWU Jatim. Untuk apa pak Dahlan korupsi? Teka-teki itu menjadi banyak penasaran masyarakat. Banyak simpatisan pak Dahlan Iskan terus melakukan pembelaan-pembelaan melalui tulisan di berbagai media massa. Dan juga banyak tokoh-tokoh agama, para Kyai pondok pesantren datang ke Rutan Medaeng untuk memberikan langsung dukungan moril. Seorang Wakil Presiden pak Yusuf Kalla, mantan ketua MK pak Mahfudz MD, group band Slank, juga tak percaya jika Dahlan Iskan terkena kasus korupsi. Untuk apa uangnya? Pak Dahlan Iskan sudah hidup berkecukupan dan beliau saya rasa bukan tipe orang tamak atau rakus yang selalu gila harta. Negeri ini cukup aneh, ketika semua lini gembar-gembor tentang korupsi, semua dan siapapun bisa dituduh korupsi. Memang korupsi tidak hanya diartikan menyalahgunakan biaya atau uang ke kantong pribadi dan kroni-kroninya, korupsi bisa terjadi penyalahgunaan kebijakan, waktu, bahkan kepercayaan. Seperti Dahlan Iskan yang tersangkut penandatangan rencana yang telah disodorkan oleh anak buah yang berbuntut dugaan korupsi. Melepas aset perusda PT PWU Jatim tanpa persetujuan DPRD meski Dahlan Iskan sudah berkirim surat kepada DPRD untuk minta penegasan apakah PT PWU Jatim tunduk pada perda atau pada UU Perseroan Terbatas (PT). Jika tunduk pada perda, PT PWU Jatim harus minta izin pada DPRD, jika tunduk pada UU PT, maka izinnya dari rapat umum pemegang saham (RUPS) PT PWU (Panca Wira Usaha) Jatim. Dan sampai saat ini masih terus berproses untuk penyelesaiannya.

            Apakah seorang Dahlan Iskan masih melawan dengan tulisan sebagai ciri khasnya? Beliau memang tidak bisa lepas dari catatan-catatan untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada seluruh masyarakat sebagai pembaca. Memberikan penjelasan dalam bentuk tulisan-tulisan yang tetap asyik mengalir, menggambarkan situasi dan kondisi bahwa masalah apapun selalu mempunyai makna jika dilaporkan, ditulis, dibumbui, dipoles, menjadi sebuah tulisan. Dan bisa menarik simpati para pembacanya.  Apa itu? Momentum Dahlan. Semoga pelajaran hidup orang hebat ini menjadi sumber inspirasi bagi kita semua untuk terus berjibaku dengan segala macam kesulitan. Dan yang paling menarik, bisa menulis sehebat Dahlan Iskan. Semoga dengan kasus yang baru, tuduhan korupsi tidak menjadikan beliau “No Hope.” Jika sekilas dilihat dari cara menghadapi banyak pers di media elektronik , beliau masih Dahlan Iskan yang dulu, selalu tersenyum.

*Penulis adalah Guru MI Salafiyah Bangilan, anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB) dan aktif di Komunitas Literasi Kali Kening Bangilan-Tuban.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.