Header Ads

Header ADS

SELAMAT DATANG KENANGAN



Oleh : Adib Riyanto

Hujan selalu menelurkan rindu, tanah basah yang mengeraminya hingga menetaskan kenangan. Seperti hari ini, gerimis musim penghujan tak mau berhenti sedari pagi. sedangkan aku masih nyaman duduk mematung dalam naungan gerimis bulan desember yang membawa sekantong keresahan. Suasana sedang lengang di sebuah kafe di kecamatan bangilan, hanya ada beberapa pelanggan yang tengah sibuk menikmati kopi, atau mungkin sedang menikmati gerimis. Entahlah... yang aku tahu memang ada beberapa orang yang sangat mengagumi hujan, tapi bukan aku.

Udara di luar sana meniupkan gigil di tengkukku, pandanganku kosong, aku merengkuh diriku sendiri, jemari yang biasanya lincah menari diatas keybord laptop, kini tengah asyik memainkan secangkir cappucino dengan sedikit creamer yang tadi sempat ku pesan. Kali ini bukan kopi hitam yang ku pesan karena takut ada yang sengaja memasukkan sianida di dalamnya. Aku tersenyum kecut. Bukan karena itu sebenarnya, tapi lebih karena kopi hitam adalah bentuk lain dari kenangan bagiku. Dan Sudah hampir setahun aku tak menghirup aroma kenangan yang di tawarkan kopi hitam, aku tak mau terus-menerus terjebak dalam kubangan kenangan, dan tentu saja aku juga tak mau hidup dalam pelukan masa lalu, juga bayang-bayang masa silam yang menyebalkan.

Merindukan masa lalu terlalu menyakitkan bagiku. Tentang hati yang patah, juga tentang rindu yang terabaikan. Ah... selalu saja fikiran itu yang menggoda alam bawah sadarku.

Sebenarnya aku datang kesini untuk mencari inspirasi, berusaha mengais-ngais ide yang berserakan di otakku untuk bisa di tulis lalu di bagi di komunitas literasiku; ritual yang sering ku lakukan selama hampir setahun ke belakang. Namun setelah beberapa saat terlewat masih belum ada hasil yang ku dapat, nol besar. Aku mendengus kesal, aku menggerutu dalam hati. Padahal banyak teman-teman literasiku yang sudah menelurkan karya yang berjubel berupa cerpen, puisi beserta antek-anteknya.

Pak Rohmat misalnya, dengan cerpen BEGAL DARSUMnya yang keren parah. Pak juwoto dengan DALANG KENTRUNG TERAKHIRnya yang sangat fenomenal. Mbak linda dengan puisi-puisinya yang istimewa. Mas ikal dengan cerpen serta kumpulan puisi PATUNG DI KEPALAnya yang kece badai, serta karya teman-teman lain yang tak kalah hebat. Sedangkan aku? Ah... entah mengapa beberapa minggu terakhir aku tak bisa berfikir, ruang otakku menjelma labirin yang sangat rumit. Sial, aku sudah kalah beberapa langkah dari mereka, batinku.
Tapi aku bangga karena bisa mengenal orang-orang yang luar biasa seperti mereka.

Trttt...

Ponselku bergetar, aku tersentak dari lamunanku. Sebuah pesan dari grup WA literasiku.
"Aku tunggu cerpenmu yg berakhir gembira atau berakhir bahagia, baru aku bisa mengartikan kamu sudah tidak patah hati lagi." Sebuah pesan dari pak Rohmat. Tentu saja pesan itu di tujukan padaku karena cerpen yang kubuat selalu bertema tentang patah hati dan berakhir kurang bahagia. Aku tersenyum geli membacanya. Ah... bagaimana mungkin aku bisa membuat cerpen dengan ending bahagia jika aku telah lupa bagaimana rasanya bahagia, pikirku. Ku balas dengan emoticon tawa. Rasanya aku ingin sekali menertawai diri sendiri. Menertawai ketidak mampuanku untuk lari dari masa lalu.

Aku sedang memainkan jemariku diatas lantai ponselku saat tiba-tiba seorang gadis berkaca mata full frame dengan rambut ikal tergerai panjang menghampiriku, ada sebuah ransel besar di punggungnya. Wajahnya tampak tak asing, ia mengingatkanku pada cinta masa laluku yang terhalang restu. Mungkin yang membedakannya hanya kaca mata full frame yang saat ini di kenakannya.

"Boleh saya duduk disini?" Ia menunjuk kursi di hadapanku, aku menatapnya dan mengangguk pelan.

"Tentu saja." Jawabku.

Wanita itu meletakkan ranselnya dengan sangat hati-hati diatas lantai kafe yang berwarna putih, kemudian melemparkan pantatnya diatas kursi. Sepertinya ada sesuatu yang berharga yang disimpan dalam ranselnya jika melihat cara wanita itu meletakkannya.

"Sendiri?" Tanyanya. Aku heran kenapa seseorang harus bertanya untuk sesuatu yang sudah mereka ketahui? Aku mendengus kesal. Apakah aku terlihat sedang bersama seseorang selain dia? Batinku. Ah... mungkin suasana hatiku saja yang kurang baik sehingga membuatku tak begitu menanggapi sikap ramah yang ia buat. Mungkin juga karena hujan di luar sana yang membuat mood ku sedikit hancur, ya! hujan selalu berhasil meniupkan kenangan, dan itu yang membuatku kesal. Tapi ku iyakan juga tanyanya dengan sebuah anggukan.

"Akhir-akhir ini saya juga sering sendiri." Wanita berkaca mata itu memperbaiki posisi duduknya, ia menatapku tajam dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ku seruput cappucino di hadapanku yang berangsur dingin. Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Apa peduliku jika kau sedang sendiri, pikirku.

"Maksud kamu?" Sebuah tanya mengudara dari mulutku.

"Ya, sama seperti yang kamu rasakan sekarang, sendiri dalam arti yang sebenarnya, kesepian."

Aku masih tak mengerti dengan apa yang di maksud wanita itu, aku memandangnya sinis.


"Saya juga tahu banyak hal tentangmu, saya tahu jika kamu sangat membenci hujan, juga kopi hitam yang menurutmu menghembuskan aroma kenangan. Tapi kamu adalah pengagum senja." Lanjutnya.

"Ah, kamu hanya menebak, dan setiap orang bisa melakukan hal itu." Jawabku santai.


Wanita itu terkekeh. "Percayalah saya memang tahu banyak hal tentangmu. Saya tahu selera musikmu, kebiasaanmu, siapa saja sahabat kecilmu, kapan pertama kali kamu patah hati dan hal lain yang berkaitan denganmu, bahkan saya tahu ukuran kolormu."

Aku tertawa lebar mendengar kata terakhir yang di ucapkan wanita itu. "Hahaha . . . Selera humormu sangat buruk." Ucapku. Dan lagi-lagi ia terkekeh.

"Saya tidak sedang bercanda, jadi tidak seharusnya kamu menertawakan saya." Katanya dingin. Lalu ia menceritakan banyak hal tentangku.

Setengah jam lebih aku mendengarkan celotehnya. Dan diluar dugaanku, ia memang benar-benar tahu semua hal tentangku. Bahkan ia juga menyebutkan ukuran kolorku. Aku tertunduk malu.

"Siapa kamu sebenarnya?" Tanyaku penasaran. Ia tertawa penuh kemenangan.

"Saya bukan siapa-siapa, saya hanya penggemarmu."

"Lalu kenapa kamu bisa tahu semua hal tentangku?"

"Mungkin saya hanya menebak, dan seperti yang kamu bilang, semua orang bisa melakukannya." Ia menirukan kalimatku. Ah... aku begitu penasaran dengan wanita ini.

"katakan saja siapa kamu sebenarnya, jangan membuatku mati penasaran."

"Hahaha..." lagi-lagi ia tertawa. "kamu tak akan mati semudah itu, lagi pula seseorang tak akan mati hanya karena penasaran bukan?" Jawabnya ringan. Aku wenggerutu. Aku benar-benar di buatnya tak berkutik, wanita itu seolah tahu ke arah mana jalan fikiranku.

"Katakan saja siapa kamu sebenarnya!!!" nada suaraku meninggi. Cukup tinggi untuk membuat seisi kafe memandang sinis kearahku. Wanita itu tersenyum tipis.

"Kamu tak perlu membentak seperti itu, saya akan mengatakan siapa saya sebenarnya tanpa kamu minta, tapi saya ingin menanyakan sesuatu padamu, kenapa kamu membenci hujan dan secangkir kopi." Kali ini ia tampak serius.
Aku menghirup nafas berat.

"Andai kamu pernah merasakannya. Bagiku selalu ada kenangan dalam setiap aroma tanah basah yang di bawa hujan. Juga kopi hitam yang memeras secangkir kenangan. Ia merambat pelan, bahkan kamu tak akan menyadari kehadirannya. Senyap, lalu... bulir-bulir rindu dengan senang hati akan mendekapmu erat, hingga kamu akan kesulitan untuk sekedar bernafas, dadamu menjadi sesak, lalu sekarat dan mati, aku tak mau seperti itu."Jawabku.

"Kamu seperti pujangga saja." Ia menanggapi. Aku mengerutkan dahi.

"Sekarang katakan siapa kamu sebenarnya?"

"Sebenarnya saya tidak yakin kamu akan percaya dengan apa yang akan saya katakan, tapi..." ada jeda cukup panjang, aku terpekur memperhatikan ucapan wanita itu.

"Tapi apa?" Aku tak sabar.

"saya adalah kenangan." Jawabnya singkat. Aku tersenyum menahan tawa.

"Lelucon macam apa ini, seorang wanita asing tiba-tiba saja datang dan mengaku sebagai kenangan, hanya untuk melarangku membenci hujan dan kopi. Hahaha... dunia ini memang Sudah gila." gumamku tak percaya. Wanita itu tak bergeming sedikitpun mendengar ucapanku.

"Bukankah sudah saya bilang, kamu tak akan percaya dengan apa yang saya katakan?"

"Tapi itu sudah keterlaluan nona, mungkin kamu terlalu sering melihat film fantasi."

Wanita itu tersenyum dan mengambil ranselnya untuk di letakkan diatas meja. Dengan sangat hati-hati ia membuka ransel besar itu, dan... semburat cahaya terang muncul, kemudian menampilkan adegan-adegan masa laluku. Aku seperti terbawa kembali pada masa itu, aku bisa merasakan kebahagiaan-kebahagiaan masa silam yang selama ini ku lupakan.

"seharusnya bukan hanya peristiwa-peristiwa pahit saja yang kamu simpan untuk di jadikan kenangan, tapi peristiwa bahagia juga mempunyai hak yang sama. Dan sekarang kamu tak punya alasan lagi untuk membenci kenangan." Wanita itu berujar sembari menutup ranselnya. Mulutku terkunci rapat, aku tak bisa mengatakan apapun. Ia beranjak pergi dan menghilang diantara rimbunnya hujan. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Dan akhirnya sebuah tepukan kecil seorang waiter membuatku membuka mata. Aku mendapati diriku terlelap diatas meja. Aku melihat sekelilingku. Suasana kafe hening, para pelanggan telah pulang ke peraduan masing-masing. Aku mengumpulkan segenap kesadaranku untuk segera beranjak setelah memberikan sejumlah rupiah pada sang waiter untuk cappucino yang telah aku tenggak.

Mungkin setelah ini aku bukan hanya menjadi pengagum senja, tapi juga pengagum hujan dengan kopi hitam dengan aroma kenangan.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.